Memahami Kemampuan Keuangan Perusahaan

 

Kami akan membahas garis besar rasio likuiditas. Rasio ini menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih. Rasio itu meliputi:

Current Ratio (Rasio Lancar) adalah nisbah antara harta lancar dan kewajiban lancar untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Semakin tinggi nilai aktiva lancar, semakin tinggi juga perusahaan untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya. Rendahnya rasio ini akan menunjukkan gejala likuidasi dalam perusahaan namun sebaliknya terlalu tingginya rasio ini menandakan bahwa banyak dana yang menganggur (tidak berputar).

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio Lancar = Harta Lancar / Utang Lancar

Cash Ratio (Rasio Kas) adalah nisbah antara kas dan aktiva lain seperti efek dengan kewajiban lancar. Rasio ini untuk menganalisis sejauh mana perusahaan dapat menutupi utang lancarnya untuk tahun yang bersangkutan.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio Kas = (Kas + Efek)/ Utang Lancar

Quick Ratio (Rasio Cepat) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Menurut Sawir (2009:1) bahwa semakin tinggi rasio ini, semakin baik pula kondisi perusahaan.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio Cepat = (Harta Lancar – Persediaan)/ Utang Lancar

Ketiga nisbah atau rasio ini dihitung secara otomatis di program Zahir Accounting tepatnya di modul Laporan > Analisa Bisnis.

==================

Pada bagian pertama, kita telah membahas beberapa rasio yang tergabung dalam analisis rasio likuiditas yang sudah kita ketahui juga bahwa rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya.

Untuk sekadar mengingatkan kita pada apa-apa saja rasio keuangan yang digunakan oleh setiap perusahaan, kali ini kita akan membahasnya lebih perinci. “Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti).” (Harahap, 2007:297). Dari pengertian itu kita dapat menyimpulkan bahwasanya rasio keuangan memiliki faedah bagi menentukan keputusan bisnis.

Faedah yang dimaksud meliputi:

  • Penyajian ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca.
  • Komponen penghitung lebih sederhana dibandingkan dengan komponen mentah pada laporan keuangan.
  • Dapat dijadikan acuan untuk perbandingan posisi keuangan perusahaan.
  • Dapat membuat tren untuk prediksi kinerja keuangan di masa mendatang.

Meskipun demikian, analisis rasio keuangan ini tidak bisa serta merta menjadi satu-satunya mekanisme dalam penilaian kinerja perusahaan, terlebih lagi jika suatu data keuangan tidak lengkap, ini menjadi kelemahan yang harus dihindari.

Banyak versi yang membagikan rasio keuangan ke dalam berbagai jenis. Contoh yang tidak asing lagi adalah versi J. Courtis yang memberi kerangka rasio keuangan yakni Profitability, Managerial Performance, dan Solvency. Selain itu, ada pula versi Dupont dengan salah satu rasio keuangannya yaitu ROI (Return on Investment). Versi ini dikenal dengan sebutan Analisis Du Pont.

Yang akan kita bahas dalam artikel bagian kedua ini adalah hanya 3 dari analisis rasio keuangan yang berlaku secara umum. Mari kita bahas satu per satu.

Rasio Solvabilitas

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menuntaskan kewajiban-kewajiban jangka panjangnya sekiranya suatu saat perusahaan dilikuidasi. (Harahap, 2007:303). Beberapa rasio solvabiltas yakni:

a. Debt to Equity Ratio (Rasio Utang pada Modal) digunakan untuk menghitung sejauh mana ekuitas pemilik dapat menutupi utang kepada pihak luar. Makin kecil rasio ini, semakin baik pula.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio Utang pada Modal = Total Utang/ Ekuitas Pemilik

b. Debt to Capital Asset (Rasio Utang pada Aktiva) menunjukkan sejauh mana utang dapat ditutupi oleh aktiva. Semakin besar rasionya, berarti semakin solvable.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Debt to Capital Asset = Total Debts/ Total Assets

Rasio Rentabilitas

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba selama periode tertentu dengan sumber yang ada seperti penjualan, kas, modal, dll. Beberapa rasio ini meliputi:a. Profit Margin menunjukkan seberapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Profit Margin = Pendapatan Bersih/ Penjualan

b. Return on Asset menunjukkan perputaran aktiva diukur dari seberapa banyak penjualan. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik pula.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
ROA = Penjualan Bersih/ Total Aktiva

c. Return on Equity seberapa jauh laba bersih yang diperoleh dari pemilik modal. Semakin besar rasio ini, semakin bagus.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
ROE = Laba Bersih/ Rata-rata Modal

Rasio Aktivitas

Rasio ini menunjukkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasi seperti penjualan, pembelian, dll. Beberapa rasio ini meliputi:Receivable Turnover yaitu menunjukkan seberapa cepat penagihan piutang. Semakin besar rasio ini, berarti semakin baik sebab cepatnya laju penagihan piutang.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Receivable Turnover = Penjualan kredit bersih/ Rata-rata piutang.

=============

Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan cara sistematis untuk memperoleh keuntungan dengan mengerahkan sumber daya yang ada. Dalam menjalankan suatu bisnis, pebisnis (sebutan untuk pelaku bisnis) akan menggunakan alat ukur untuk melakukan perbandingan terhadap posisi bisnisnya saat ini maupun periode bisnis sebelumnya. Periode bisnis yang dimaksud dapat berupa: bulanan, triwulan, bahkan tahunan. Sedangkan alat ukur untuk mengetahui perbandingan bisnis menggunakan rasio keuangan.

Rasio keuangan adalah satuan kuantitatif yang dihasilkan dari perbandingan antara dua data atau lebih yang menjadi komponen pada laporan keuangan suatu bisnis. Komponen – komponen tersebut bisa berupa modal, pendapatan, hutang, piutang, ataupun biaya yang dihasilkan selama periode bisnis berlangsung. Karena bersifat perbandingan, rasio keuangan biasanya disajikan dalam bentuk persentase (%).

Dalam perkembangannya, kondisi kesehatan bisnis merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Karena tanpa didukung oleh kondisi kesehatan yang baik, suatu bisnis tidak dapat berkembang maksimal. Suatu bisnis dikatakan dalam kondisi sehat apabila memiliki beberapa indikator sebagai berikut: memiliki profitabilitas yang tinggi, efisiensi yang tinggi, dan solvabilitas yang tinggi. Untuk mengetahui ketiga indikator tersebut, pebisnis menggunakan rasio – rasio keuangan yang dihitung berdasarkan komponen pada laporan keuangan.

Rasio profitabilitas menunjukan kemampuan untuk menghasilkan keuntungan yang dihasilkan dalam suatu bisnis.  Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu bisnis antara lain: Gross Profit Margin (GPM), Net Profit Margin (NPM),atau Return of Asset (ROA). Sementara rasio efisiensi  menunjukan kemampuan untuk meminimalisir biaya untuk menghasilkan profiabilitas dalam suatu bisnis.  Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu bisnis antara lain: Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), ataupun Operating Ratio. Sementara rasio solvabilitas menunjukkan indikasi keamanan suatu bisnis dari para pemberi pinjaman (Bank). Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu bisnis antara lain: Debt to Equity Ratio (DER), atau Debt to Total Asset Ratio (DAR).

Ketiga indikator tersebut saling berhubungan, sehingga pebisnis harus bisa menjaga keseimbangan antara profitabilitas, efisiensi, dan solvabilitas yang dimiliki. Suatu bisnis yang memiliki ROA (profitabilitas) yang tinggi ditunjang oleh BOPO yang rendah (profitabilitas tinggi) sehingga menghasilkan DER (solvabilitas) yang tinggi. Begitu juga sebaliknya, bisnis yang memiliki efisiensi yang rendah (BOPO tinggi) akan menghambat profitabilitas, dan menurunkan solvabilitas suatu bisnis.

Rasio keuangan dihitung berdasarkan hasil laporan keuangan pada periode bisnis berjalan, oleh karena itu dibutuhkan sistem pencatatan akuntansi yang terintegrasi dengan laporan keuangan. Dengan menggunakan sistem akuntansi yang terkomputerisasi, maka pebisnis akan lebih mudah melakukan analisis rasio keuangan untuk mengetahui kesehatan bisnis. Karena sistem pencatatan akuntansi yang tepat akan menghasilkan laporan keuangan yang akurat sehingga pebisnis dapat melakukan analisis terhadap kesehatan bisnisnya berdasarkan rasio – rasio keuangan.

Akan tetapi penilaian kesehatan bisnis dengan menggunakan rasio keuangan memiliki beberapa kekurangan, antara lain: tidak memasukan faktor non kuantitatif seperti persaiangan pasar dan kepuasan konsumen. Selain itu analisa kesehatan bisnis dengan menggunakan rasio keuangan sangat bergantung pada hasil laporan keuangan, sehingga setiap proses pencatatan keuangan hingga menjadi laporan harus menggunakan sistem yang cepat, akurat, dan sistematis agar analisis rasio keuangan bisa mencerminkan kondisi bisnis sebenarnya.

sumber artikel : http://zahiraccounting.com/id/blog/3-rasio-keuangan-untuk-melihat-kesehatan-bisnis/